Dengan SNMPTN, ITB Menghapus Seleksi Jalur Mandiri
Institut Teknologi Bandung menghapus jalur mandiri pada penerimaan mahasiswa tahun 2011. Seluruh mahasiswa akan disaring melalui seleksi penerimaan secara nasional yakni melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).“Prinsipnya kami ingin menjaring mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia dan kami juga tidak ingin dikatakan menjual kursi, apalagi jalur mandiri baru boleh dilaksanakan setelah SNMPTN,” kata Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni ITB Prof. Hasanuddin Z. Abidin dalam jumpa pers di Gedung Rektorat ITB Jln. Tamansari Bandung, Kamis (13/1).
Menurut Hasanuddin, dari sekitar 3.200 mahasiswa baru yang akan diterima di ITB tahun ini, 60 persen di antaranya akan diterima melalui SNMPTN jalur undangan atau berdasarkan penjaringan prestasi akademik. Sementara 40 persen lainnya melalui SNMPTN jalur ujian tertulis dan keterampilan.
“Sesuai dengan PP 66/2010, ITB akan mengalokasikan 20 persen untuk siswa tidak mampu. Bukan secara keseluruhan, tetapi kami akan coba kuota 20 persen untuk setiap program studi,” ujarnya.
Hasanuddin mengakui dihilangkannya jalur mandiri di ITB akan berpengaruh pada keuangan ITB sebab selama ini jalur mandiri, terutama Sekolah Bisnis Manajemen dianggap eksklusif dan berbiaya mahal. Kondisi ini, menurut dia, telah menimbulkan iklim yang tidak baik dan menyebabkan hilangnya jaminan bagi siswa yang benar-benar pintar tanpa dikarbit bimbingan belajar untuk bisa masuk ITB. “Mahasiswa tidak perlu lagi memikirkan uang, kami yang akan memikirkan itu. Biaya nanti kami hitung lagi berdasarkan penghasilan orang tua. Kalau memang tidak mampu, kami yang akan cari uangnya,” katanya.
Sesuai dengan keputusan panitia SNMPTN pusat, pendaftaran jalur undangan akan dibuka 1 Februari hingga 12 Maret 2011. Sementara pengumuman hasil dilaksanakan 18 Mei 2011. “Untuk jalur tertulis dilaksanakan 31 Mei dan 1 Juni, bersamaan dengan registrasi mahasiswa yang diterima di jalur undangan,” tuturnya.
Nantinya, kata Hasanuddin, panitia pusat yang akan menentukan sekolah mana yang berhak mengirimkan siswa untuk jalur undangan ini. Siapa siswa yang berhak ikut ada di tangan kepala sekolah. “Pusat punya database sekolah yang dianggap baik. Nanti kepala sekolah yang memilih dengan mengirimkan bukti rapor. Belum tentu diterima semua sebab nanti perguruan tinggi yang akan menentukan,” katanya.
Hasanuddin menambahkan, tidak ada tes tertulis bagi siswa yang diundang pada SNMPTN jalur undangan ini. Seleksi hanya berdasarkan penilaian akademik selama SMA. “Seperti PMDK dulu,” ujarnya seraya menambahkan seluruh informasi bisa diperoleh di http://www/snmptn.ac.id atau http://www.itb.ac.id/usm-itb/.
SMUP tetap ada
Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia mengungkapkan, Unpad akan tetap memakai formula 60:40 untuk penerimaan mahasiswa baru. Artinya, 60 persen akan diterima melalui jalur SNMPTN, sedangkan 40 persennya melalui Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP). Menurut Ganjar, Unpad tetap melakukan hal ini karena sudah diatur oleh negara melalui Permendiknas Nomor 34 Tahun 2010.
Ganjar menjelaskan, dari penerimaan 60 persen melalui jalur SNMPTN, sepuluh persennya akan dipakai untuk jalur undangan. Jalur undangan ini merupakan jalur khusus bagi siswa yang berprestasi dan mendapat rekomendasi sekolah. “Dari jalur undangan ada sekitar 60 siswa yang akan diterima Unpad. Selain itu, kami juga akan menerima sekitar 500 siswa untuk program beasiswa bidik misi. Ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu,” kata Ganjar.
Terkait mekanisme jalur SMUP, menurut Ganjar, tahun ini akan ada perubahan. Menurut Ganjar, bagi calon mahasiswa yang sudah mendaftar SNMPTN dan SMUP tidak perlu mengikuti tes SMUP karena nilai serta data SNMPTN-nya yang akan dipakai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar